Duka Nasional
Bulan Maret ini kita dikejutkan dengan adanya tragedi ibu yang membunuh anak kandungnya sendiri. Kasus ini terjadi di dua tempat yaitu Bekasi dan Pekalongan, dengan menggunakan teknik membunuh yang sama, menenggelamkan anak kecilnya ke dalam bak mandi. Yang menarik dari dua kasus ini, bahwa modus pembunuhan tersebut sama yaitu kesulitan ekonomi. (Seputar Indonesia, 25/3/08). Ini adalah salah satu contoh betapa kemiskinan telah mencekik masyarakat kita, sehingga wajar jika kriminalitas makin sering terjadi. Jumlah penduduk miskin bertambah dari 36,1 juta pada 2004 menjadi 39,3 juta pada 2006 dengan pendapatan Rp 151.997/orang/bulan sebagai garis kemiskinan, atau hanya sekitar seperlima dari Kebutuhan Hidup Minimum yang sebesar Rp 719.834/orang/bulan (BPS: Indikator Kunci Indonesia 2007). Bukan hanya kemiskinan yang melanda masyarakat Indonesia, tetapi juga pengangguran, kelaparan, gizi buruk dan mahalnya kesehatan, mahalnya pendidikan, serta kenaikan harga yang terjadi pada bulan-bulan terakhir ini. Kemiskinan sangat erat kaitannya dengan pengangguran. Angka pengangguran terbuka di Indonesia terdata 10,3% dan setengah menganggur 29,1%. Ini artinya sekitar 39,4% angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan yang aman. Mereka yang telah memiliki pekerjaan pun hanya mendapatkan pendapatan bersih rata-rata Rp 759.999,-/orang/bulan. Sementara itu, Upah Minimum Provinsi dipatok lebih rendah dari itu, yakni rata-rata Rp 602.702.-/orang/bulan. (BPS: Indikator Kunci Indonesia 2007). Produksi padi pada 2006 ditaksir sekitar 5juta ton. Jika didistribusikan secara baik kepada 230 juta penduduk Indonesia, dan dengan asumsi susut 10% dalam pengolahan dari padi ke beras, maka setiap orang akan mendapatkan 580 gram beras/hari. Untuk memperkuat stok beras, BULOG mengimpor 1,5juta ton beras dari Vietnam dan Thailand. Jadi, jumlah beras lebih banyak lagi. Namun, kondisi di Makasar, seorang ibu yang sedang hamil 7 bulan dan anaknya yang berusia 5 tahun meninggal karena kelaparan.(Metrotv,1/3/08). Tentang gisi buruk dan mahalnya kesehatan, data Depkes menyebutkan bahwa jumlah balita kurang gisi dan gisi buruk mencapai 4,1juta jiwa. Di Temanggung Jawa Tengah, 299 anak menderita gisi buruk akut. Mereka belum tertangani karena minimnya fasilitas pelayanan. (Metrotv, 9/3/08). Negara ini sedang berubah; dari negeri yang kaya sumber daya alam menjadi negeri yang dililit utang dan bencana alam; dari negeri yang penduduknya terkenal ramah menjadi negeri yang penduduknya dikenal banyak yang susah. Demokrasi dan kebebasan yang diagung-agungkan sejak era reformasi ternyata tidak banyak memberikan perbaikan nasib yang berarti, apalagi berkah kepada rakyat negeri ini. Korupsi makin menjadi-jadi. Korupsi justru kini dirancang dengan apik sejak pembuatan Undang-Undang. Berbagai UU seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal dibuat justru untuk memberi kepastian hukum bagi (melindungi) para konglomerat dan kapitalis asing untuk mengeruk sumber daya alam di negeri ini. UU ini sepertinya hanya merupakan pesanan asing yang ingin menjarah negeri ini secara legal. Negeri ini memerlukan strategi baru, misi baru, bahkan visi baru agar dapat keluar dari krisis. Demokrasi yang digembar-gemborkan selama ini jelas tidak cocok dan tidak kompatibel untuk bangsa dan negara ini. Demokrasi hanya menjadi alat legalisasi penjarahan bagi para konglomerta dan kapitalis asing. Suara rakyat hanya akan diperalat untuk meloloskan agenda-agenda busuk mereka. Sudah saatnya kita mempunyai visi yang baru, visi yang sesuai dengan fitrah manusia. Visi yang jika diterapkan akan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.
Identitas Diri: Nama: Dhevi farida firdausi Alamat Surabaya: Jalan Gebang Roda Sekolah no.17, Surabaya. AlamatAsal:RT.01,RW.01,DS.SuruhanKidul,Kec.Bandung,Kab.Tulungagung. Mahasiswa: Jurusan arsitektur, ITS. Tempat/Tanggal Lahir: Tulungagung, 23 Desember 1985 No. rekening: 0049598195 No.telp: 0856 4830 4205
Filed under: Politik | 1 Comment
piye vi kuliahmu ? liburan iki mulih opo ora ? ki pak didik