Rekayasa Isu Pemanasan Global
Sebanyak 20 negara polutan (negara yang dianggap menyumbang polusi terbesar di dunia) akhir pekan ini dijadwalkan duduk bersama dalam pertemuan Group of 20 (G 20) di Makuhari, Tokyo, Jepang (Jawa Pos, 14/3/2008). Acara ini terkait dengan isu pemanasan global yang masih terus digulirkan untuk mempersiapkan penggantian Protokol Kyoto pada akhir 2009.
Isu global warming sendiri sebenarnya masih kontroversial. Di antara para ilmuwan sendiri, ada yang percaya bahwa pemanasan global (global warming) memang terjadi akibat polutan berlebih yang terkandung pada atmosfer bumi. Sebaliknya, sebagian ilmuwan percaya bahwa pemanasan global merupakan kelanjutan dari proses Big Bang. Artinya, setelah terbentuk dengan proses pemampatan, bumi secara alami semakin memuai karena panas dan akhirnya akan hancur menjadi partikel-partikel sebagaimana dulu sebelum bumi terbentuk.
Lagipula, ketakutan dan analisis sebagian ahli akan pemanasan global selama ini masih baru didasarkan melulu pada hasil model numerik yang belum secara sungguh-sungguh dibandingkan dengan data pengamatan. Selain itu, kebanyakan model yang digunakan saat ini masih jauh dari sempurna dalam merumuskan mekanisme rumit sesungguhnya yang terjadi di bumi (www.agus.blogonesia.com).
Memang tak ada salahnya jika kita mengurangi emisi. Karena memang polutan di udara kita sudah sedemikian menyesakkan. Yang perlu diwaspadai adalah pemanfaatan isu pemanasan global untuk kepentingan negara-negara polutan kapitalis (sebut saja AS dan negara-negara Eropa Barat). Pasalnya, solusi yang diajukan, yakni perdagangan karbon, pencanangan skema REDD, CDM, pencarian enegi alternatif, dan pengurangan emisi S dan SO, bukanlah solusi yang solutif.
Menyelesaikan Masalah dengan Masalah
Banyak pihak menilai perdagangan karbon tidak efektif untuk menghindari pemanasan global. Karena jumlah CO2 di atmosfer tidak cukup signifikan untuk berkontribusi pada pemanasan global yaitu hanya 0, 04 %. Selain itu, pergerakan CO2 di atmosfer adalah yang paling lambat di antara gas-gas yang lain. Artinya, CO2 yang berada di atas udara negara-negara polutan hanya akan berpengaruh pada lingkungan di dalam negara yang bersangkutan. Padahal pengertian perdagangan karbon sendiri adalah mekanisme dimana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain (lihat Ensiklopedi Wikipedia Indonesia). Ini berarti negara-negara polutan dapat dengan bebas lari dari tanggung jawab untuk mengurangi emisi karbonnya asalkan mampu membayar sejumlah uang kepada negara bersih polutan yang kebanyakan adalah negara berkembang.
Solusi lain untuk mengurangi emisi yakni pencanangan skema REDD (Reducing Emition for Deforestration dan Degradation) dan CDM (Clean Development Mechanism) adalah program-program yang dilakukan oleh suatu negara untuk pembersihan polutan sehingga dapat menjual kredit polusinya kepada negara lain. Pelaksanaan skema ini menurut Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Chalid Muhammad bukanlah solusi. “Justru skema ini menjadi jebakan bagi negara-negara yang memiliki hutan seperti Indonesia,” kata Chalid. Karena dengan skema REDD substansi persoalan menjadi hilang. Negara yang memiliki hutan tidak lagi mengambil kepemimpinan untuk mendesak negara-negara kaya di Utara agar melakukan pemotongan karbon yang lebih banyak dan mendudukan persoalan pada keadilan iklim. REDD, lanjut Chalid, lebih pada skema perdagangan semata. “Karena kita harus menjaga hutan sebagai bentuk pelayanan kepada negara maju. Kita memang harus menjaga hutan, tapi bukan untuk melayani negara maju,” kata Chalid. Menurut Chalid, menjaga hutan jangan lantas ditukar-gulingkan dengan skema REDD. Sebab, dengan skema itu negara industri maju tidak dituntut menurunkan emisi karbonnya (Metrotvnews.com, 5/12/2007).
Solusi pengurangan emisi dengan mencari sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) saat ini begitu gencar disosialisasikan di seluruh dunia. Selain untuk mengurangi kontribusi bahan bakar fosil terhadap pemanasan global, pencarian sumber energi alternatif merupakan solusi untuk menipisnya persediaan bahan bakar fosil di bumi. Kedua alasan yang dikemukakan ini dapat dibantah dengan pernyataan bahwa bahan bakar fosil hanya berkontribusi 0, 013 % terhadap penambahan jumlah CO2 di atmosfer. Dan jumlah CO2 sebagaimana disebutkan di atas, hanya 0, 04 % dari seluruh jumlah gas di atmosfer. Sedangkan menipisnya persediaan bahan bakar fosil sebenarnya hanya berpengaruh pada negara-negara maju yang notabene selama ini menggali bahan bakar fosil dari negara-negara berkembang. Sedangkan untuk negara-negara berkembang yang notabene kaya akan sumber daya alam, persediaan bahan bakar fosil sebenarnya dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri mereka sendiri. Lalu buat apa negara-negara berkembang susah-susah mencari sumber energi alternatif?
Pengurangan emisi S dan SO memang merupakan solusi yang efektif untuk menghindari pemansan global. Karena S dan SO yang paling banyak menyumbang efek pemanasan global. Yang menjadi masalah adalah hasil dari pengurangan emisi S dan SO. Pengurangan emisi dilakukan dengan cara memproses sampah-sampah organik dan lahan-lahan gambut sebagai biang keladi penghasil S dan SO sehingga menghasilkan gas methan. Gas methan ternyata dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang disebut biogas. Kembali lagi pertanyaannya adalah buat apa negara-negara berkembang susah-susah mencari sumber energi alternatif?
Merunut Akar Permasalahan
Dalam kehidupan kapitalistik saat ini tidak heran jika seseorang atau suatu negara hanya akan memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan teori ekonomi yang dianut mereka. Yakni teori yang menyatakan bahwa kebutuhan manusia tak terbatas, sedangkan alat pemenuh kebutuhan manusia terbatas. Tentu saja manusia secara naluriah ingin semua kebutuhannya terpenuhi. Sehingga tidak heran jika yang menjadi fokus utama dalam sektor perekonomian adalah sektor produksi. Yaitu bagaimana memproduksi sebanyak mungkin alat, barang, atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Perusahaan-perusahaan pun kemudian didirikan tanpa memikirkan keramahan lingkungan. Bahkan perusahaan-perusahaan tersebut berkonspirasi dengan organisasi-organisasi konservasi alam agar produksi barang mereka tetap mulus (baca makalah Roger Moody: Sleepwalking with Enemy or Walking to the Truth).
Di sisi lain, kebebasan kepemilikan begitu diagungkan. Akibatnya, seseorang atau suatu negara dengan bebas memiliki sumber-sumber pemenuhan kebutuhan manusia. Tidak peduli apakah sumber-sumber tersebut dibutuhkan untuk hajat hidup orang banyak atau tidak. Sehingga seseorang atau suatu negara berhak memiliki hutan, sumber bahan bakar fosil, pertambangan, yang seharusnya menjadi kepemilikan umum yang dikelola oleh negara. Akibatnya, pembalakan liar tak terelakkan. Aktivitas-aktivitas penambangan pun semakin merusak area sekitar pertambangan. Kebebasan kepemilikan juga mengakibatkan perusahaan-perusahaan multinasional yang berpusat di negara-negara maju dengan bebas memiliki sumber bahan bakar fosil yang ada di negara-negara berkembang.
Mencermati hal-hal di atas, masalah pemanasan global ternyata tidak bisa jika hanya dilihat sebagai masalah lingkungan. Sehingga solusinya hanya berkisar pada solusi yang berkaitan dengan konservasi lingkungan yang malah tidak bisa menyelesasikan masalah pemanasan global secara tuntas. Akan tetapi masalah pemanasan global erat kaitannya dengan sistem ekonomi yang kapitalistik. Yang hanya memikirkan pertumbuhan produksi tanpa memikirkan aspek distribusi dan aspek kepemilikan. Sistem ekonomi kapitalistik juga melahirkan mental-mental kapitalis yang menghalalkan segala cara untuk kepentingan sendiri termasuk memanfaatkan isu pemanasan global yang masih kontroversial.
Mencari Solusi yang Solutif
Sesuai dengan namanya, yang dirugikan dalam masalah pemanasan global tentu saja bukan hanya manusia, baik orang per orang maupun negara. Akan tetapi juga lingkungan secara global, yakni Bumi, beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Oleh karena itu seharusnya masalah pemanasan global diselesaikan dengan global pula. Islam yang diyakini pemeluknya sebagai rahmat bagi seluruh alam sebenarnya memenuhi syarat global tersebut. Artinya, ketika dilaksanakan, Islam tidak hanya memberi rahmat kepada orang Islam saja, tapi seluruh manusia termasuk non Muslim, dan seluruh makhluk yang terdapat di alam.
Islam mempunyai sistem ekonomi yang sangat jauh dengan sifat kapitalistik. Sistem ekonomi ini membedakan antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan keinginan naluriah manusia. Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia untuk eksistensinya. Misalnya makan dan minum. Sedangkan keinginan naluriah yang tidak harus dipenuhi oleh manusia karena tidak menyangkut hidup dan mati misalnya mobil, televisi, dan sejenisnya. Sehingga penciptaan alat pemenuh kebutuhan manusia seharusnya ada batas dan pengaturannya. Konsep inilah yang membuat perusahaan-perusahaan fokus pada produksi barang yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga tidak terlalu mengejar angka poduksi yang fantastis yang rawan dengan persaingan tidak sehat dan produk tidak ramah lingkungan.
Islam juga mempunyai konsep kepemilikan yang jelas. Sistem ekonomi Islam membagi kepemilikan menjadi tiga, yakni kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dengan konsep ini, menjadi jelas bahwa negara tidak bisa sembarangan memberikan kepemilikan kepada swasta. Perusahaan swasta yang profit oriented sering terbukti tidak ramah lingkungan. Apalagi perusahaan-perusahaan multinasional yang menguasai kepemilikan umum terbukti hanya menjadi alat penjajahan negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang (baca Confessions of An Economic Hit Man oleh John Perkins).
Sistem ekonomi Islam ini tentu saja tidak bisa berdiri sendiri tanpa dianut oleh negara besar sebagaimana sistem ekonomi kapitalistik dianut oleh AS dan negara-negara Eropa Barat. Negara tersebut adalah Khilafah yang terbukti mengemban sistem ekonomi Islam selama lebih dari 12 abad tanpa masalah lingkungan. Khilafah juga yang terbukti mewarnai isu global dunia pada saat itu tanpa rekayasa (misal isu bahwa Matahari merupakan pusat tata surya). Sehingga barang siapa mengaku sebagai penyelamat Bumi seharusnya berani mengatakan: Save The Earth with Khilafah!.
Filed under: Lingkungan | 1 Comment
Tags: Add new tag, Tulisan ini dibuat ketika training penulisan yg diadaka
vi, piye kuliahmu ? pak didik